Mulianya Hidup Bertetangga

Hidup bertetangga sangatlah indah, apabila satu sama lain diantara kita saling menghormati, mengasihi dan saling membantu jika salah satu diantara kita sedang mengalami kesulitan ataupun kesusahan.

Satu ungkapan bahwa, tetangga laksana seseorang dengan saudara kandung, tidaklah salah. Meskipun secara lahiriah mereka adalah orang lain yang tidak mempunyai pertalian darah dengan kita, namun kedekatan kita kepadanya, membuat mereka seperti saudara kandung. Ketika kita mengalami suatu kesenangan ataupun musibah, merekalah yang mendengar dan mengetahuinya terlebih dahulu. Tidak hanya sekedar mendengar dan mengetahui saja, akan tetapi mereka yang pertama kali membantu, ketika kita mengalami kesulitan. Sementara saudara kita yang tinggalnya berjauhan dengan rumah kita, mengetahuinya dan membantu setelah mereka, para tetangga dekat kita.
Bertetangga, memang bagian kehidupan manusia yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Manusia sebagai makhluk sosial, ia tidak bisa hidup tanpa bantuan seseorang. Sebagaimana seorang laki-laki yang membutuhkan seorang wanita dan begitu juga sebaliknya, wanita membutuhkan seorang laki-laki dalam mengarungi kehidupan ini. Bertetangga tidak jauh beda dengan sepasang suami istri yang saling membutuhkan. Firman Allah SWT, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan jauh dan teman sejawat.” (QS. An-Nisa’:36).
Sebuah riwayat menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW pulang dari bepergian. Beberapa meter menjelang rumahnya, Nabi mencium aroma gulai kambing yang berasal dari rumahnya. Rasul bergegas ke rumah dan menemui putrinya yang ternyata sedang memasak gulai kambing. Rasulullah, kemudian memerintahkan putri tercintanya Fatimah, untuk memperbanyak kuah gulai yang sedang dimasaknya untuk kemudian membagikannya kepada mereka.
Kisah ini menunjukkan bahwa Islam sangat menganjurkan untuk membiasakan diri saling berbagi dan merasakan kebahagiaan bersama-sama. Islam melarang kita hidup egois, serakah, dan individualistik. Penghormatan kepada tetangga adalah bagian dari aktualisasi keimanan kepada Allah SWT dan hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya”. (HR. Muslim)
Menghormati tetangga, mempunyai arti, yang sangatlah luas. Menghormati, berarti tidak menyakiti, memenuhi hak-haknya, selalu tersenyum ketika bertemu, tidak menceritakan aib atau menghina dan melecehkannya, kemudian menolongnya, ketika mereka membutuhkan pertolongan kita. Dr. Yusuf Qardhawi menyebutkan, seorang tetangga memiliki peran sentral dalam memelihara harta dan kehormatan warga sekitarnya. Dengan demikian seorang Mukmin hakikatnya penjaga yang bertanggungjawab terhadap keselamatan seluruh milik tetangganya. Bahkan, seseorang tidak dikatakan beriman, jika tidak bisa memberi rasa aman pada tetangganya.
Adapun hak-hak tetangga yang harus kita penuhi, menurut sabda Rasulullah SAW adalah: “Hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi. Bila wafat, kamu mengantarkan jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami. Dan bila mengalami kesukaran atau kemiskinan, hendaklah kamu berkunjung dan membantunya. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya. Dan bila menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Jangan sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, lalu menutup jalan udaranya (kelancaran angin baginya). Dan janganlah kamu mengganggunya dengan bau masakan, kecuali kamu menciduknya dan memberikan kepadanya”. (HR. Ibnu ’Adi dan Al-Khara’ithi).
Keharmonisan yang terjalin dalam kehidupan bertetangga akan menciptakan sebuah benteng kokoh yang bernama kerukunan, rasa kasih sayang dan keindahan dalam hidup bermasyarakat. Salah satu sendi yang membuat negara dapat berdiri dengan kokoh, adalah dimulai dari kerukunan yang tercipta antara orang-orang yang berada disekitar kita diantaranya adalah tetangga.

PILIHAN HIDUP

SEBUAH PILIHAN DALAM HIDUP

Hidup adalah pilihan, itulah mungkin kata yang tepat kita gunakan untuk menggambarkan setiap detil kehidupan kita. Mau tidak mau, suka ataupun tidak suka kita akan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan sulit yang harus kita pilih salah satu. Keadaan ini tidak bisa kita hindari sedikitpun alias harus kita hadapi dengan segala konsekuensi yang menyertainya.
Saya teringat, saat-saat baru saja lulus dari bangku kuliah, dimana saat itu gelar sarjana telah aku raih. Ada rasa bangga dan satu keyakinan menyelinap dalam hati, bahwa dengan gelar sarjana yang aku raih, aku akan mendapat pekerjaan yang bagus dan mendapat gaji yang berlimpah. Namun, ternyata kenyataan tidak seindah yang aku bayangkan. Persaingan yang sangat ketat dalam dunia kerja membuat seringkali aku dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit, hingga membuat aku terkadang merasa putus asa.
Banyak diantara temanku yang memakai jilbab harus menanggalkannya, demi memperoleh pekerjaan, karena banyak perusahaan-perusahaan lebih memilih yang tidak memakai jilbab. Keadaan tersebut, membuat sedikit goyah keyakinanku. Namun demikian, support yang telah diberikan oleh saudara perempuanku, bahwa setiap manusia, telah diberikan rizki masing-masing oleh Allah SWT, baik itu memakai jilbab, maupun tidak. Memakai jilbab bukan suatu kendala, seseorang mendapat suatu pekerjaan. Justru dengan memenuhi perintah Allah untuk menutup aurat, akan mengundang pertolongan Allah datang pada diri kita.
Sungguh, janji Allah itu benar-benar terjadi, tak lama kemudian aku diterima disebuah yayasan yang mengelola dana umat yaitu Zakat, Infaq dan Shodaqoh. Disanalah aku seolah-olah menemukan sebuah telaga yang sungguh sangat menentramkan hati, dan disana pula aku menemukan sebuah komunitas yang membuatku semakin terjaga keimananku.
Sekedar memilih dan memutuskan memang mudah, jika kita tidak melihat konsekuensi yang akan kita tanggung. Tetapi jika kita berpikir akan konsekuensi yang akan kita tanggung, tentunya persoalannya akan menjadi lain. Pilihan-pilihan itu akan terasa sulit untuk segera kita putuskan, sebab pertimbangan-pertimbangan akan dampak yang timbul, tentunya akan menjadi salah satu pemikiran untuk mengambil suatu keputusan.
Salah memilih sebenarnya adalah hal yang lumrah dan wajar terjadi. Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan dalam menentukan sebuah pilihan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan manusia dalam memprediksi segala sesuatu yang sifatnya masih ghaib. Namun demikian, ada satu hal yang harus kita ingat, bahwa salah memilih terhadap hal yang berkaitan dengan aktifitas didunia, semuanya masih bisa kita perbaiki, selama kita mau terus berusaha untuk memperbaikinya. Tetapi persoalan akan menjadi fatal, ketika kita salah memilih agama yang telah menjadi pandangan serta landasan hidup kita. Sebab, tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya, jika nyawa ini sudah keluar dari jasad kita. Naudzubillahi mindzalik. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Fathir ayat 37: “Dan mereka berteriak didalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang sholeh berlainan yang telah kami kerjakan.” “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir, dan apakah tidak datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah azab Kami dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.
Dinamika kehidupan manusia menuntut kita untuk bersikap tegas dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidup. Ketegasan dalam menentukan pilihan inilah yang akan menentukan siapa diri kita sesungguhnya, dan kemana arah hidup kita sesungguhnya. Haruslah kita ingat, bahwa hidup ini hanya sebentar dan tidaklah lama dibandingkan dengan kehidupan kelak diakhirat nanti. Tentukanlah sebuah pilihan yang tepat dan benar, demi keselamatan kita didunia dan diakhirat kelak. “Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah mati kecuali dalam keadaan memeluk (agama) Islam.” (QS. Al-Baqarah:132).

BERGANTUNG PADA AWAN

BERGANTUNG PADA AWAN

Ketika Nasrudin sedang menggali di padang pasir, bertanyalah seseorang yang lewat. “Hai Mullah, apa yang seang anda lakukan?” “Tempo hari aku menegubur beberapa dinar disini tapi lupa tempatnya dimana, jawab Nasrudin.” Coba kau beri tanda diatasnya, pasti gampang ditemukan.” “Sudah. Waktu ada awan diatasnya, tapi awan itu tidak ada lagi.”
Setelah membaca kisah diatas mungkin anda tersenyum sambil membayangkan wajah tolol sang mullah dan wajah menyesal orang yang mengajaknya bicara. Kalau tahu akan mendapatkan jawaban tolol seperti itu, sebaiknya aku nggak bertanya saja, begitu mungkin gerutuan si penanya.
Ya, bukan Nasruddin namanya kalau tidak bisa menggelitik kesadaran kita yang paling dalam. Nasruddin membongkar kesadaran terdalam kita lewat cara-cara yang tolol, dan hasilnya kadang bisa sangat mengejutkan ternyata kita juga tolol.
Ya, kisah tolol diatas, mungkin sesunguhnya tentang kita yang sering menyandarkan diri pada sesuatu yang mudah berubah dan tidak abadi. Kita sandarkan harapan, kasih sayang, cinta, masa depan, status sosial dan sebagainya pada sesuatu yang sangat mungkin berunah dan pasti berakhir. Padahal, ada sandaran dan tempat bergantung yang lebih abadi, lebih mulia dan lebih agung. Tempat bergantung itu adalah Allah Azza wa jalla. Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas:1-2)
Inilah nash yang tidak perlu interpretasi lagi. Tidak perlu tafsir karena semuanya sudah sangat jelas. Allahlah satu-satunya tempat bergantung yang sesungguhnya. Sebab, Dialah Al-Khaliq, segala sesuatu. Siapapun makhluk yang bergantung kepada selain-Nya, nasibnya akan seperti Nasruddin. Nasruddin menjadikan awan sebagai sandaran, padahal awan sangat mudah terhempas ditiup angin. Dan, karena angin pula, sang awan hancur dan berakhir. Oleh karena itu,kalau dia kemungkinan mendapatkan kekecewaan, itu hal yang wajar. Namun, siapapun makhluk yang bergantungdan bersandar sepenuhnya kepada Allah, dia tidak akan menyia-nyiakan apalagi mengecewakannya.
Milik kita yang paling berharga adalah fitrah kita. Fitrah adalah kecenderungan untuk menghamba kepada Allah. Fitrah adalah juga kesadaran ilahiah. Sayangnya kita dengan sengaja menimbun dan menutupinya dengan pasir dan debu kehidupan. Kita gali pasir untuk menutupi fitrah kita, sehingga tidak tampak ke permukaan. Celakanya lagi, kemudian kita sandarkan hidup kita kepada sesuatu yang pasti berubah dan berakhir. Siapakah yang menjamin bahwa awan yang hari ini bertengger diatas rumah kita, besok pagi masih tetap ditempatnya? Kecuali kalau Allah menghendaki, tidak ada seorangpun yang dapat dan mampu memberi jaminan.
Fitrah abadi tidak lain adalah ‘Abdullah, alias budak Allah. Ya, kita hanya budak. Sebagai budak, apakah kita patut menyombongkan diri? Apakah patut kita bergantung kepada si B padahal kita budak si A? Kita hidup atas belas kasihan sang majikan. Identitas budak yang paling utama adalah tunduk dan patuh tanpa syarat kepada sang majikan. Itulah sebabnya, sang budak disebut muslim yaitu orang yang berserah diri secara total dan menggantungkan harapan dan kesalamatan sepebuhnya hanya kepada Al-Malik, Raja diraja yang Maha Kuasa. “......dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Mukmin:66).
Budak yang baik akan bekerja dengan baik sesuai dengan kehendak dan kemauan majikan. Sebab, dia yakin, apalagi jika kehendak dan kemauan majikannya dia turuti, pastilah majikannya akan senang dan sayang padanya. Budak yang baik juga akan selalu sadar bahwa hidupnya selama 24 jam berada dalam pengawasan sekaligus perlindungan majikannya. Oleh karena itu, berbuat lacur adalah penghianatan terhadap kuasa sang majikan. Jika sudah begitu, jangan salahkan majikan kalau dia menghukum sang budak karena dia sendirilah yang sesungguhnya memilih dan minta dihukum. “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An-am:162)
Itulah yang selalu ikrarkan dengan segenap perhatian dan tulus setiap kita sholat. Seolah-olah kita ingin terus menerus memperbaharui komitmen kita kepada Allah. Kita seolah-olah ingin meyakinkan diri sendiri bahwa kita benar-benar sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kuasa Allah, Tuhan yang menciptakan sekaligus memelihara kita.

IF THE COUPLES LIVING DID NOT IMMEDIATELY COME ALIVE

Waiting is a very tedious job, especially when waiting for something that has not been confirmed. While running, growing old, never-talk is always nice to hear from their neighbors to the right and left home, relatives and close friends.
Day-to-day that passed as if slowly and not necessarily that way at all ends. Jumbled and confused sad shame that can not be dodged, not label behavior of people should be swallowed in the heart despite not receive the nickname that they provide. But what may make, all have occurred does not have the power to avoid and circumvent all of that, other than waiting for God's provisions come.
Perhaps it is perceived by Muslims and Muslim brothers that we still do not find the tether heart. Couples living is a mystery difficult to know anyone who is easily find couples living without having to wait a long time, but otherwise there is also a need to swallow bitterness because couples never get a life.
Couples is a natural tendency human life, every human life in this world who need her support as a motivator of life in the ocean of life that many steep stone block and happiness that awaits if the river craft capable of running the household in accordance with the already outlined by Islam. But the problem be the pair lived just hope that never arrived.
Every human life in this world has been basically determined pair of his life each by God, as His word says "And Allah has made the pair you live among themselves, and made the children and grandchildren-grandchildren for you from a pair life ". (An-Nahl: 72). And the word of God in other say Ar-Ruum : 21 "And among the signs is that He created for him pair jenismu's own life that you feel comfortable and tend to him and made between you love and pity. Indeed, that actually there are signs for people who think. "
God's Word above shows very clearly that we made each other in pairs between women and men. When not at this time also was the pairing of life, this is part of the test to measure the patience of God we live and give a chance for us to do good more. Because, as the word of God in the Al-Ankabut : 2 God explains that: "Do men think that they just kept saying:" We believe ", and they are not tested again?"
Therefore, in the subconscious tanamkan the most to remain in prejudice both to God because He is the servant of prejudice obey Him. If the servant is always ugly prejudice the ugliness that will be obtaining but always prejudiced if the course is also good to be received. In addition, not easy to remain in despair and trying berdo'a ask God to be so easy. Because prayer is a means for a slave to complain to God.

BILA JODOH TAK KUNJUNG DATANG

Menunggu merupakan pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang belum pasti. Sementara waktu terus berjalan, usiapun terus bertambah, omongan-omongan tak enak selalu terdengar dari tetangga sebelah kanan dan kiri rumah, sanak saudara dan teman-teman dekat.
Hari-hari yang terlalui seakan-akan lambat dan tak tentu arah kapan semuanya itu berakhir. Bingung bercampur sedih dan malu tak bisa dielakkan, label tak laku dari masyarakat harus ditelan dalam hati meski tidak terima dengan julukan yang mereka sandangkan. Tetapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi tidak ada kekuatan menghindar dan mengelak dari semua itu, selain pasrah dan menunggu ketetapan Allah datang.
Mungkin itulah yang dirasakan oleh saudara muslim dan muslimah kita yang masih belum menemukan tambatan hatinya. Pasangan hidup memang sebuah misteri yang sulit diketahui siapapun, ada yang dengan mudah mendapatkan pasangan hidup tanpa harus menunggu waktu yang lama, namun sebaliknya adapula yang harus menelan kepahitan karena tak kunjung mendapatkan pasangan hidup.
Pasangan hidup adalah fitrah manusia, setiap manusia yang hidup didunia ini membutuhkan sosok pendamping hidup sebagai penyemangat dalam mengarungi samudera kehidupan yang banyak batu terjal menghadang dan kebahagiaan yang akan menanti jika mampu menjalankan biduk rumah tangga sesuai dengan yang telah digariskan oleh islam. Tetapi permasalahannya pasangan hidup yang dibayangkan hanya sekedar harapan yang tak kunjung tiba.
Setiap manusia yang hidup didunia ini pada dasarnya telah ditentukan pasangan hidupnya masing-masing oleh Allah, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi “Dan Allah telah menjadikan pasangan hidup kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu-cucu bagi kamu dari pasangan hidupmu”. (QS : An-Nahl : 72). Dan firman Allah lainnya dalam surat Ar-Ruum ayat 21 : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Firman Allah di atas sangat jelas menunjukkan bahwa kita diciptakan saling berpasang-pasangan antara wanita dan laki-laki. Apabila saat ini belum juga dikaruniai pasangan hidup, hal ini merupakan bagian dari ujian Allah untuk mengukur kesabaran kita menjalani hidup dan memberi kesempatan bagi diri kita untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Karena sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 2 Allah menjelaskan bahwa : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : “Kami telah beriman”,sedang mereka tidak diuji lagi?”
Karena itu, tanamkan dalam lubuk hati yang paling dalam untuk tetap berprasangka baik kepada Allah karena sesungguhnya Allah menuruti prasangka hamba-Nya. Jika hambanya selalu berprasangka jelek maka kejelekan yang akan diperolehnya namun jika selalu berprasangka baik tentunya kebaikanlah yang akan diterimanya. Selain itu janganlah mudah berputus asa untuk tetap berusaha dan berdo’a memohon kepada Allah agar diberi kemudahan. Karena berdoa merupakan sarana bagi seorang hamba untuk mengadu kepada Allah.